Label

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2012

Prinsip Resiprositas dalam Tradisi Nguopin



Oleh: Diah Dharmapatni

Seluruh masyarakat Indonesia tentu mengenal istilah gotong royong. Dalam masyarakat Bali sikap gotong royong tercermin dalam tradisi Nguopin. Tradisi nguopin berarti saling membantu keluarga yang sedang mengadakan kegiatan atau upacara keagamaan. Tradisi saling membantu ini dilakukan oleh kaum wanita dalam suatu lingkungan Banjar. Bantuan yang diberikan berupa tenaga untuk membuat upakara atau banten yang akan digunakan pada saat upacara berlangsung. Seperti upacara perkawinan, upacara potong gigi, odalan di Sanggah/Merajan, dan lain-lain.

Senin, 20 Agustus 2012

Semiotika Dekonstruktif: 666 dan Lady Gaga


oleh: Bram Setiawan (mahasiswa Antropologi Udayana, tingkat akhir)


I want your horror
I want your design
‘Cause you're a criminal
As long as your mine
I want your love
Love, love, love
I want your love

(Bad Romance, Lady Gaga; 28 Oktober 2009)

Belum lama ini Indonesia sempat dihebohkan dengan akan datang dan digelarnya konser dari seorang penyanyi terkenal bernama Lady Gaga. Walaupun pada akhirnya kedatangannya dibatalkan, karena begitu banyak menuai kontroversi, terutama dari berbagai kalangan ormas berjubah agama. Siapakah sebenarnya Lady Gaga? dan mengapa kedatangannya menuai kontroversi? Penyanyi yang bernama Stefani Joanne Angelina Germanotta ini, lahir di New York, Amerika Serikat, 28 Maret 1986, ia lebih dikenal dengan nama panggungnya Lady Gaga, yang merupakan seorang penyanyi pop Amerika Serikat. Di beberapa negara tidak hanya Indonesia, contohnya seperti Filipina, Korea Selatan juga sempat menolak kedatangan Lady Gaga untuk menggelar konser.

Rabu, 11 Juli 2012

Subaltern dan Gerakan Sejarah (Baru) Bangsa Papua




oleh I Ngurah Suryawan 
Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.
Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ngurahsuryawan@gmail.com


“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada orang yang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”
(Pdt. I. S Kijne tentang masa depan rakyat Papua Barat di Wasior Manokwari, 25 Oktober 1925)

Spirit Kajian Budaya Bali



oleh I Ngurah Suryawan

Kajian Budaya Bali salah satunya berkembang melalui “tangan dingin” dan determinasi intelektual plus perjuangan–yang kemudian menjadi “monumen intelektual”—dari (alm) Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, ”bapak studi kebudayaan Bali”. Monumen intelektual yang dimaksud adalah beroperasinya Program Magister Kajian Budaya pada tahun 1996 dan Doktor Kajian Budaya pada tahun 2001 di Program Pascasarjana Universitas Udayana. Bagi saya, hadirnya program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini lebih daripada sekadar monumen. Program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini menjadi ruang mediasi gerakan sosial dan intelektual Bali untuk mewacanakan kebudayaannya secara terbuka dan kritis. (Alm) Prof. Bagus seolah meletakkan pondasi studi kritik kebudayaan Bali yang (mungkin) diimpikannya untuk sebuah gerakan intelektual Bali yang memikirkan Bali tidak “ke dalam” dan esensialistik namun terbuka, kritis, dan dinamis dalam membaca relasi-relasi kebudayaan, kekuasaan, dan konteks kuasa kapital global yang mencengkram Bali. 

SISI DIBALIK BALI: Politik Identitas, Kekerasan dan Interkoneksi Global


oleh I Ngurah Suryawan


Di Bali, antropolog juga bisa diuangkan lewat industri pariwisata. Kalau di zaman kolonial orang asing datang ke Bali untuk transaksi rempah-rempah dan budak, di zaman modern mereka datang membeli komoditas yang disebut kebudayaan dan para antropolog bisa menjadi juragannya. Di Bali, untuk menyambut kedatangan sang pembawa devisa, berjamurlah sekolah pariwisata maupun perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum “kebudayaan” yang dibidani oleh insan-insan akademis. Di sinilah terletak benang kusut diskursif antara pengetahuan, takhta, dan uang.
(Degung Santikarma, “Pentas Antropologi Indonesia”, Kompas 7 Juli 2004)

Politik Ruang Pasar dan Perjuangan Mama-Mama Papua




oleh I Ngurah Suryawan
Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua, Papua Barat.
Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ngurahsuryawan@gmail.com


ABSTRAK
Masyarakat tempatan di Papua bisa dikatakan menjadi daerah di garis depan (frontier) pertemuan kekuatan-kekuatan kapital global dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Persaingan memperebutkan akses ekonomi politik menjadi tak terhindarkan. Ketegangan (kekalahan) orang lokal Papua dengan para migran dalam merebut akses ekonomi sering disebut sebagai salah pemantik marginalisasi orang lokal Papua di tanahnya sendiri.

Politik Ruang dan Siasat Kebudayaan



Oleh I Ngurah Suryawan

”Kami selama ini tidak main-main mengembangkan pariwisata di daerah kami. Dasarnya tetap pariwisata budaya dan agama. Jika itu hilang, apa yang akan kami jual,” kata Bupati Karangasem, Wayan Geredeg saat ditanya pengembangan pariwisata di wilayahnya (Kompas, 1 April 2009). Konteks yang diungkapkan oleh Wayan Geredeg adalah respon daerahnya terhadap kajian RTRW (Rancangan Tata Ruang dan Wilayah) yang berusaha untuk memetakan, salah satunya adalah daerah mana saja yang bisa dimasuki dan diubah melalui investasi pariwisata. Pengembangan “daerah-daerah baru” pariwisata melalui investasi di kabupaten-kabupaten sebisanya mengacu pada pariwisata kerakyatan. Dasarnya tentu saja pariwisata berbasis budaya dan agama di satu sisi, dan mengundang investasi untuk menggerakkan pariwisata dan kesejahteraan rakyat di sisi lain.

Mau Kemana Kajian Budaya Bali?



Oleh: I Ngurah Suryawan

Belum lama ini, pada Maret 2009, pergolakan politik kebudayaan Bali sempat dihangatkan melalui perdebatan Gde Jayakumara dan Nyoman Darma Putra plus Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud). Pemicu perdebatan tersebut adalah kritik “pedas plus tendensius” Gde Jayakumara terhadap buku terbaru Nyoman Darma Putra, Bali dalam Kuasa Politik (2008). Selain persoalan notulensi kebudayaan dari perspektif jurnalis, ambisi membuat narasi besar kebudayaan Bali dari buku Nyoman Darma Putra yang dikritik Gde Jayakumara—yang dianggap pantas dibaca kemudian dilupakan—poin paling memerahkan telinga bagi yang merasa dikritik sudah pasti adalah pernyataan Gde Jayakumara, yang salah satunya menyebutkan akademisi-akademisi tua di Program Magister Kajian Budaya Unud seperti pikun-pikunan, mengigau dalam memberikan kuliah. Yang selalu melihat fenomena sosial, politik budaya di Bali hanya sebatas bentuk, fungsi, dan makna (Sarad 107 Maret 2009 hlm. 49).

Mambesak dan Spirit Kehidupan Bangsa Papua: Sebuah Refleksi


I Ngurah Suryawan
Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.
Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ngurahsuryawan@gmail.com


“Kita bernyanyi untuk hidup dahulu, sekarang dan nanti” (Mambesak)


Dalam sebuah pertemuan budaya di Kota Manokwari, Papua Barat pada akhir November 2010, saya merasakan ada kerinduan dari para pegiat seni dan budaya akan sebuah kebangkitan kembali kebudayaan Bangsa Papua. Hanya dengan seni dan budayalah orang Papua bisa menegakkan identitasnya. Kesan yang saya rasakan dalam pertemuan tersebut, jati diri orang Papua terletak pada ekspresi seni dan budaya, yang sayang sekali sering diputarbalikkan sebagai “politik” dan pemberontakan.

Baliseering, Modernisasi , dan Gerakan Intelektual Hindu 1920-an.



oleh: I Ngurah Suryawan

Salah satu politik kebudayaan kolonial (Belanda) dalam membentuk Bali adalah Baliseering. Yang menjadi landasan utama dalam politik kebudayaan ini adalah penemuan dan penggalian keaslian dan otentisitas budaya Bali. Dalam politik kebudayaan Baliseering, Picard (2006) menuliskan tujuannya bukanlah melindungi kebudayaan Bali yang ada, melainkan memulihkan apa yang disangka oleh mereka (rezim kolonial Belanda) merupakan keadaan aslinya. Politik kebudayaan ini tidak hanya sekadar mencoba melindungi orang Bali dari pengaruh-pengaruh luar, para orientalis dan pejabat Belanda di pulau itu mengajarkan pula bagaimana menjadi orang Bali yang sebenarnya: itulah tujuan dari kebijakan yang dikenal dengan nama baliseering atau ‘Balinisasi” yang diterapkan pada tahun 1920-an.

Bali, Pascakolonial, dan Subaltern



Oleh I Ngurah Suryawan

Dalam melihat pergolakan politik kebudayaan Bali, konteks pascakolonial sangat penting diajukan untuk melihat Bali bukan sebuah warisan yang steril dari relasi kuasa. Bingkai pascakolonial memberikan perspektif bagaimana melihat negara bekas jajahan dari pembongkaran warisan praktik kolonisasi. Warisan praktik kolonisasi telah membadan dan tercermin dalam praktik kehidupan di negari jajahan, bahkan diadopsi oleh masyarakat terjajah untuk mempraktikkan kolonisasi sesama mereka. Warisan praktik kolonisasi inilah yang coba untuk dibongkar oleh perspektif pascakolonial.

Bali 1960-an: Sebuah Catatan Ekonomi Politik Kekerasan



oleh I Ngurah Suryawan

Setelah rezim kolonial Belanda meninggalkan jejak-jejak kolonisasinya, Bali sebagai sebuah pulau kecil menggeliat menuju pergolakan penting yang menentukan perjalanan sejarahnya. Menginjak tahun 1950-an, banyaknya partai-partai yang berebut kekuasaan, ditambah dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan, Bali dilanda sebuah masa kegelapan dalam sejarahnya. Kemiskinan dan tragedi alam letusan Gunung Agung menyebabkan ribuan manusia Bali jatuh kondisi terburuk. Ditengah kemiskinan dan kelaparan itu, ketegangan politik dalam perebutan kekuasaan lokal di Bali—yang paling keras antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dan PNI (Partai Nasionalis Indonesia)—semakin memuncak. Perseteruan politik dan keterpurukan kondisi ekonomi Bali menjadi tema-tema penting tahun 1950-1960-an di Bali. 

Antropologi Gerakan Sosial Bangsa Papua: Sebuah Pemikiran


oleh I Ngurah Suryawan 

Lingkaran kekerasan di “tanah yang diberkati”, Tanah Papua, mencerminkan kompleksitas persoalan yang serius di daerah timur Indonesia ini.  Tragedi kekerasan hadir silih berganti dibarengi dengan resistensi perjuangan status sejarah politik Papua, macetnya jargon “pemberdayaan masyarakat Papua” dari pemerintah, baku tipu akibat “gula-gula” otonomi khusus (otsus) Papua, dan semakin terpinggirkannya masyarakat Papua di tengah interkoneksi kuasa kapital global yang mencengkram bumi cenderawasih ini. 

Selasa, 10 Juli 2012

Spirit dan (Praktik) Politik Kajian Budaya



Oleh I Ngurah Suryawan


“...Cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoritis sebagai praktik politik. Di sini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa”
(Chris Barker, Cultural Studies Teori dan Praktik, 2004).


Kajian budaya (cultural studies) muncul menawarkan sebuah perspektif baru untuk memberikan makna
pada suara-suara perlawanan dan gugatan dari kelompok pinggiran. Berusaha untuk mengkritik kelompok dan budaya dominan (hegemonik), cultural studies (CS) sebagai praktik intelektual melepaskan dirinya dari kemandekan ilmu-ilmu sosial untuk menangkap fenomena-fenomena antah berantah, suara-suara keseharian yang sering dinggap “bukan budaya”. CS memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Berbeda dengan "kritik kebudayaan" yang memandang kebudayaan sebagai bidang seni, estetika, dan nilai-nilai moral/kreatif, kajian budaya berusaha mencari penjelasan perbedaan kebudayaan dan praktek kebudayaan tidak dengan menunjuk nilai-nilai intrinsik dan abadi (how good?), tetapi dengan menunjuk seluruh peta relasi sosial (in whose interest?).

Satgas Parpol dan Pentas Kekerasan



oleh I Ngurah Suryawan


Artikel ini adalah ringkasan dari paper saya yang dipresentasikan pada Seminar Internasional ke-10 di Kampoeng Percik Salatiga, 28-31 Juli 2009. Seminar internasional kali ini mengambil tema tentang “Representasi Kepentingan Rakyat pada Pemilu 2009”.

Pendahuluan

James T Siegel dalam Pejahat Gaya (Orde) Baru, Eksplorasi Politik dan Kriminalitas (1998) mengungkapkan, dalam sejarah kekerasan di Indonesia, seringkali meninggalkan momok dan “hantu” yang terus membayangi. Pasca tragedi kekerasan, selalu diciptakan bagaimana kekerasan menjadi bagian yang tidak terpisah dari pembentukan bangsa ini. Para kriminal, jagoan lokal dan kelompok organisasi massa selalu memperhitungkan “wajah-wajah” yang mirip dengan mereka untuk mereproduksi kekerasan menjadi sebuah lingkaran tanpa henti. Para kriminalitas dalam sejarah kekerasan terbentuk untuk menunjukkan pergolakan ide politik dan nasionalisme Indonesia. Dalam setiap fase, ide tentang kriminalitas dan kekerasan selalu beriringan dengan rezim ketakutan, teror, ancaman yang membayangi citra (image) “wajah” orang Indonesia sendiri. Ideologi ancaman dan ketakutan melalui “komunisme” “penjahat dan penembak misterius” dan “organisasi tanpa bentuk” saat rezim otoritarian Orde Baru berkuasa setidaknya menjelaskan hal ini.

Antropologi Reflektif dan Manusia Bali di Garis Depan


 oleh I Ngurah Suryawan *)

(dimuat di Bali Post Minggu, 2 Januari 2011)

Interkoneksi global membentangkan wilayah-wilayah yang praktis hampir semuanya terjamah oleh kuasa modal global. Dalam konteks itulah kearifan lokal kebudayaan yang dibayangkan mungkin hanya sekadar romantisasi semata. Seluruh wilayah kini telah tersambung dalam interkoneksi global yang mempertemukan masyarakat tempatan dengan jejaring eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia tepat di depan mata. Dalam kondisi itulah terdapat fragmen-fragmen kisah manusia untuk mementaskan siasat, resistensi, memanfaatkan peluang ekonomi politik sekaligus bernegosiasi.

Antropologi, Sejarah, dan Suara-suara Senyap



oleh I Ngurah Suryawan


Wayan Marda, seorang lelaki setengah baya, di sebuah desa utara Bali sungguh terpukul. Bergetar dan pilu ia menyaksikan mayat ayahnya, lelaki renta yang dekat di hatinya, terbaring di jalan. Sementara ratusan masyarakat, yang tidak lain adalah krama (warga), saudaranya, berteriak penuh caci maki menghujat ayahnya. Kerumunan warga tersebut “menghukum” ayah Wayan Marda karena dianggap egois, tidak ikut menunaikan kewajiban menjadi krama desa pakraman (warga desa adat). Ia biasa mendongkel keputusan rapat desa, melakukan aksi perlawanan terhadap keputusan tersebut dengan membangkang dan memilih jalan “lain”, daripada suara mayoritas.

Senin, 09 Juli 2012

PRAKTEK JUAL BELI JIN: REALITAS-REALITAS SEMU MASYARAKAT KONSUMER


 
(SEBUAH REFLEKSI PEMIKIRAN WACANA POST-SPIRITUAL YANG DIWARNAI DENGAN MISTISISME, OKULTISME, DAN TAKHAYUL)



oleh Bram Setiawan (mahasiswa Antropologi Udayana, angkatan 2008)


Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita                 
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa                  

Ebiet G. Ade (Berita Kepada Kawan)

                                   
Roda zaman menggilas kita
Terseret tertatih-tatih
Sungguh hidup terus diburu berpacu dengan waktu
Tak ada yang dapat menolong selain yang di sana
Tak ada tempat yang membantu selain yang di sana
Dialah Tuhan…

Ebiet G. Ade (Menjaring Matahari)


Untaian lirik lagu di atas bisa menjadi sebuah perenungan tentang realitas keseharian masyarakat modern, ketika dunia dikuasai oleh citra, gagasan dan objek yang merupakan refleksi hasrat manusia dengan bagaimana kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi mempunyai berbagai dampak klinis, khususnya dalam menciptakan berbagai problem psikopatologis dan kejiwaan pada individu-individu yang terlibat di dalamnya, telah banyak dilakukan studi mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, perbincangan mengenai kegilaan dalam konteks perkembangan kapitalisme, lebih pada wacana budayanya meskipun berbagai terminologi klinis digunakan di sini sebagai landasan perbincangan. Kegilaan, dalam hal ini, tidak dilihat sebagai fenomena individu, tetapi sebagai fenomena yang inhern di dalam sistem kapitalisme itu sendiri. Kegilaan di sini lebih dipandang sebagai sebuah “metafora kultural”, untuk menjelaskan berbagai kondisi kegilaan masyarakat (kapitalis) dan kebudayaan (kapitalisme), dengan berbagai dimensi, bentuk, dan karakteristiknya.