Label

Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Tanah Terjepit, Manusia Bali Menjerit



Oleh I Ngurah Suryawan

Meski bukan hal baru, kisah ironi tanah-tanah Bali yang dilalap investor terasa sangat menyesakkan. Kali ini dengan “menjual mimpi” megahnya pariwisata, 80% tanah di pesisir pantai di Kabupaten Tabanan dikuasai investor (Bali Post, 1 Juli 2009). Terbuai dengan mimpi-mimpi glamour pariwisata, rakyat dan pejabat menjual tanahnya dengan harapan bisa mendapatkan tetesan madu pariwisata. Tapi apa lacur, tanah sudah terjual, mimpi mendapatkan kesejahteraan dari pariwisata hanyalah isapan jempol.

Politik Ritual Kematian



oleh I Ngurah Suryawan

Sebuah keluarga besar berpakaian adat ringan tampak merangsek masuk ke sebuah gang kecil di pinggiran Kota Denpasar. Mereka adalah si bapak, istri, anak, menantu dan 3 cucunya bergegas menuju sebuah rumah di ujung gang. Di depan rumah, jejeran motor telah memenuhi sebagian ruas gang yang memang jauh dari luas. Beberapa orang yang juga berpakaian adat ringan duduk-duduk mengumpul dan ada beberapa orang yang bercengkrama. Mereka semua menunggu giliran untuk meluasang, nunas baos pada Jero Balian Tapakan di rumah itu. Ritual ini adalah untuk bertanya kepada balian, dukun, untuk berkomunikasi tentang berbagai hal kepada leluhur. Ruh para leluhur inilah yang akan merasuki Jero Balian Tapakan sehingga para pe-nunas baos akan bisa bertanya apapun kepada leluhurnya.

“Historiografi Kambing Hitam”



Oleh I Ngurah Suryawan


Bambang Purwanto, sejarawan Universitas Gadjah Mada dalam kata pengantarnya di buku Kathrine E. McGregor, Ketika Sejarah Berseragam (2008) mengemukakan ide yang bernas dan tajam dalam konteks historiografi Indonesia dan perdebatannya hingga kini. Dengan mengambil titik pijak pada historiografi sebelum dan saat Orde Baru, ia mengandaikan bahwa penulisan sejarah di Indonesia selalu membangunan ingatan massa dengan saling membenturkan dua elemen ideologi yang berbeda untuk merangkai “kuasa sejarahnya” masing-masing.

Gemuruh Politik dan Suara-Suara Tersisih di Desa Pakraman




oleh I Ngurah Suryawan


Wayan Marda, seorang lelaki setengah baya, di sebuah desa utara Pulau Bali sungguh terpukul. Bergetar dan pilu ia menyaksikan mayat ayahnya, lelaki renta yang dekat di hatinya, terbaring di jalan dua tahun lalu pada suatu hari di pertengahan bulan Agustus. Sementara ratusan masyarakat, yang tidak lain adalah krama (warga), saudaranya, berteriak penuh caci maki menghujat ayahnya. Kerumunan warga tersebut “menghukum” ayah Wayan Marda karena dianggap egois, tidak ikut menunaikan kewajiban menjadi krama desa pakraman. Ia biasa mendongkel keputusan rapat desa, melakukan aksi perlawanan terhadap keputusan tersebut dengan membangkang dan memilih jalan “lain” dari suara mayoritas.

Dibawah Bayang Kejora: Catatan Awal Gerakan Sosial Papua 1999-2000




oleh I Ngurah Suryawan

John Rimbiak, pembela hak-hak asasi manusia Papua dan salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa Papua mengistilahkan rakyat Papua mengalami jiwa yang patah untuk menggambarkan bagaimana isi hati, harkat, dan jati diri rakyat Papua untuk membebaskan dirinya telah dirampas oleh berbagai tindakan kekerasan terhadap kemanusiaan yang telah dilakukan negara dan kekuasaannya (baca: Indonesia). Mereka mengalami “Jiwa yang Patah” (hilang percaya diri, frustrasi, apatis, mengendapkan dendam dan  kebencian yang mendalam terhadap pihak yang membuat mereka menderita). Secara sosial rakyat terpecah belah dan saling tidak percaya satu sama lain. Suatu kenyataan yang, selain berbagai faktor lainnya, juga melatar-belakangi mengapa rakyat Papua dewasa ini menuntut untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Apa Kabar Intelektual (Hindu) Bali?




oleh I Ngurah Suryawan


Jauh dari bernas saya kira peran intelektual Bali di kancah nasional selama ini. Kegundahan ini saya pendam dari dulu. Terus terang, saya kadang-kadng iri melihat begitu lihai dan dinamisnya “dunia persilatan” intelektual di negeri ini, dan hanya minim sekali—untuk tidak mengatakan tidak sama sekali—melibatkan warna dan pikiran dari intelektual Bali, atau lebih tepatnya intelektual Hindu Bali. Segudang pertanyaan muncul, tapi yang membuat saya penasaran adalah kenapa bisa demikian adanya?

Antropologi Reflektif dan Manusia Bali di Garis Depan


 oleh I Ngurah Suryawan *)

(dimuat di Bali Post Minggu, 2 Januari 2011)

Interkoneksi global membentangkan wilayah-wilayah yang praktis hampir semuanya terjamah oleh kuasa modal global. Dalam konteks itulah kearifan lokal kebudayaan yang dibayangkan mungkin hanya sekadar romantisasi semata. Seluruh wilayah kini telah tersambung dalam interkoneksi global yang mempertemukan masyarakat tempatan dengan jejaring eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia tepat di depan mata. Dalam kondisi itulah terdapat fragmen-fragmen kisah manusia untuk mementaskan siasat, resistensi, memanfaatkan peluang ekonomi politik sekaligus bernegosiasi.

Agama, Ritual, dan Kuasa




oleh I Ngurah Suryawan

Ritus, ritual, upacara adalah agama dalam tindakan untuk mencari jalan keselamatan (salvation). Keselamatan adalah tujuan dari kehidupan beragama dan juga dari serangkain ritual yang dilakukan oleh agama-agama. Agama praksis yang terdapat dalam ritual menjadi cermin dari serangkaian aktivitas pendukung ritus tersebut. Ritual, upacara, dan ritus-ritus yang dilakukan pemeluk agama pasti mempunyai mitos tertentu. Selain itu, dalam ritual terdapat hubungan erat antara mitos, suatu dongeng suci dari suatu bangsa dengan aktivitas ritual, tingkah laku moral, organisasi sosial, bahkan aktivitas politik suatu masyarakat (Dhafamony, 1995; Suhardi, 2009: 12).

Selasa, 10 Juli 2012

Pamarisudha Karipubhaya dan Atma Papa: Ritual dan (Politik) Kematian



Oleh I Ngurah Suryawan

Pergolakan Bali pasca bom 2002 dan 2005 menyita berbagai macam persoalan. Selain keterpurukan secara ekonomi pasca bom 2002, “bom sosial” berupa ketegangan sosial antara masyarakat (Hindu) Bali dengan para pendatang. Namun dalam catatan Darma Putra (2003), sehari setelah ledakan bom di Legian, tepatnya mulai pukul 07.00 wita, tokoh masyarakat dan pimpinan dari berbagai agama dan lembaga swadaya masyarakat, seperti tanpa dikomando berkumpul di Kantor Gubernur Bali. Dari pertemuan itu, mereka mengeluarkan imbauan sejuk agar masyarakat menjaga kedamaian, tidak terpancing provokasi. Mereka juga mengutuk pengeboman tetapi meminta masyarakat agar waspada dan menjauhi tindakan anarkhis.

Komunis, Separatis, Teroris




Oleh I Ngurah Suryawan
Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA)
Manokwari, Papua Barat


Saat saya memulai studi tentang Tragedi 1965 di Bali tahun 2002, saya masih ingat sekali dua cerita berbeda yang saya temukakan saat ngerembug, ngobrol-ngobrol di sebuah warung di sebuah desa di ujung barat Pulau Bali. Cerita pertama adalah ocehan seorang tetua desa, yang saya kira adalah salah satu orang terpandang di desa, tentang sebuah keluarga yang juga tetangga sebelah rumahnya. Keluarga ini kini menjadi salah satu keluarga yang ”maju”, disegani karena hampir sebagian besar anggota keluarganya ”sukses”. Ada yang menjadi dokter, dosen, pengusaha property sukses bahkan ada diantaranya yang menjadi arsitek yang bekerja di sebuah negara bagian di Amerika.

Kepalsuan Ritual




 Oleh I Ngurah Suryawan

Seorang teman masa kuliah dari utara Pulau Bali membawa cerita menyesakkan pertengahan tahun 2010. Berikut ini kisahnya.

Sebut saja namanya Made, adalah cucu seorang tokoh masyarakat paling disegani di desanya. Kakeknya almarhum adalah seorang tokoh veteran yang dikenal membidani lahirnya awig-awig (aturan desa). Kakeknya terkenal sekali dengan tutur bahasa Bali halus yang Made saja bisa tebengong-bengong mendengarnya, sambil bingung memikirkan apa artinya. Singkat cerita, kakek Made adalah orang yang berpengaruh dengan sederetan jasa-jasanya.

Kelas Menengah Bali dan Mimpi Otentisitas Budaya




oleh I Ngurah Suryawan

Perubahan kebudayaan yang menimpa Bali kini adalah sebuah proses relasi yang panjang dan kompleks. Salah satu momen penting itu adalah sentuhan-sentuhannya dengan kebudayaan “Indonesia” yang menawarkan Bali sebuah janji manis nan membuai bernama pariwisata. Mendiskusikan Bali sebagai suatu yang otentik dan eksklusif menjadi salah kaprah ketika waktu justru membuktikan Bali bisa bertahan karena pengaruhnya dengan “Indonesia” dan dunia global.

Kaum Subaltern Bali



oleh I Ngurah Suryawan
(Opini Harian Bali Tribune, 9 Mei 2012)

I Wayan Tapa, seorang lelaki setengah baya, di sebuah desa utara Pulau Bali sungguh terpukul. Bergetar dan pilu ia menyaksikan mayat ayahnya, lelaki renta yang dekat di hatinya, terbaring di jalan empat tahun lalu pada suatu hari di pertengahan bulan Agustus 2008. Sementara ratusan masyarakat, yang tidak lain adalah krama (warga), saudaranya sendiri, berteriak penuh caci maki menghujat ayahnya. Kerumunan warga tersebut “menghukum” ayah Wayan Tapa karena dianggap egois, tidak ikut menunaikan kewajiban menjadi krama desa pakraman, tanah tempat kelahirannya sendiri. Ia biasa mendongkel keputusan rapat desa, melakukan aksi perlawanan terhadap keputusan tersebut dengan membangkang dan memilih jalan “lain” dari suara mayoritas.

Bara di Bali Utara



oleh I Ngurah Suryawan

Kabupaten Buleleng di utara Pulau Bali dikenal dengan “bumi panas” karena kekerasan dan keberingasan menjadi keakrabanan sehari-hari. Pasca reformasi 1998, tensi politik di Buleleng meningkat tajam dengan rentetan tragedi kekerasan hingga menelan korban tewas. Ketegangan dan kekerasan politik lokal tersebut melibatkan pendukung partai politik dari PDIP dan Partai Golkar.

Spirit Kajian Budaya Bali



oleh I Ngurah Suryawan


Kajian Budaya Bali salah satunya berkembang melalui “tangan dingin” dan determinasi intelektual plus perjuangan–yang kemudian menjadi “monumen intelektual”—dari (alm) Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, ”bapak studi kebudayaan Bali”. Monumen intelektual yang dimaksud adalah beroperasinya Program Magister Kajian Budaya pada tahun 1996 dan Doktor Kajian Budaya pada tahun 2001 di Program Pascasarjana Universitas Udayana. Bagi saya, hadirnya program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini lebih daripada sekadar monumen. Program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini menjadi ruang mediasi gerakan sosial dan intelektual Bali untuk mewacanakan kebudayaannya secara terbuka dan kritis. (Alm) Prof. Bagus seolah meletakkan pondasi studi kritik kebudayaan Bali yang (mungkin) diimpikannya untuk sebuah gerakan intelektual Bali yang memikirkan Bali tidak “ke dalam” dan esensialistik namun terbuka, kritis, dan dinamis dalam membaca relasi-relasi kebudayaan, kekuasaan, dan konteks kuasa kapital global yang mencengkram Bali. 

Senin, 09 Juli 2012

Kritik Mati bila Bali "Koh Ngomong"



Oleh: Wayan Sunarta


“Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.

Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang sederhana ini sekarang hampir hilang dari pendengaran anak-anak Bali, digantikan lagu-lagu anak-anak modern.

Minggu, 08 Juli 2012

Meng-etnografi-kan Bali Lewat Superman Is Dead




oleh DEGUNG SANTIKARMA


Gambaran antropologis ”tradisional” tentang Bali berawal dari kehidupan masyarakat desa, dengan ritme kehidupan petani, sawah, penggembala, subak, dan ritus keagamaan. Bali dilukiskan sebagai masyarakat yang homogen, asli, unik, alamiah, dan tak terjamah oleh pengaruh luar.

Karena kebijakan ”politik etis” Belanda, Bali dikarantina sebagai ”kawasan khusus” yang perlu dilindungi dari pengaruh luar, umpamanya pengaruh dari agama besar dunia, Islam dan Kristen. Menurut mereka, Bali dianggap satu-satunya Pulau Hindu yang masih eksis, tak berubah, sebagai bukti peninggalan peradaban besar Nusantara setelah Jawa mengalami arus gencar islamisasi. Lalu rezim pascakolonial menjual Bali sebagai daerah tujuan wisata, citra ketakberubahan Bali dilestarikan dan dilanjutkan sampai sekarang dengan bungkusan baru disebut ”Ajeg Bali”. Genealogi ”Ajeg Bali” menunjukkan suatu ”bukti diri” bagaimana disiplin antropologi, bikinan kaum penjajah tanpa diperiksa, diteruskan begitu saja oleh rezim pascakolonial.

(Esai) Gemerlap Ritual: Ambiguitas dan Kekuasaan

oleh I Ngurah Suryawan


Ritual ngaben bagi keluarga yang ditinggalkan belum tentu berlangsung lancar. Banyak orang-orang Bali yang terkena musibah kematian harus tertimpa tangga bersitegang untuk mendapatkan setra (kuburan) untuk ngaben. Tidak tanggung-tanggung kemarahan warga ditunjukkan dengan menggeletakkan jasad di tengah jalan atau bahkan menghadang warga yang “bermasalah” untuk menguburkan atau meng-ngaben-kan jasad di setra. Lemparan batu dan umpatan pada sesama krama (warga) satu desa tidak sulit dilakukan karena dianggap telah melanggar awig-awig dan tidak memenuhi kewajiban sebagai krama adat. Saya sempat berada di tengah-tengah sebuah keluarga di sebuah desa kecil di Bali yang disepekang (dikucilkan) dan mempunyai musibah kematian tapi dihadang penguburannya oleh krama (warga) adat. Setra (kuburan) dipagari dengan batang-batang pohon dan puluhan krama melempari rumah warga yang dikucilkan. Setelah dikepung beberapa jam dan aparat kepolisian dating, akhirnya keluarga ini memilih untuk menguburkan jasad salah satu anggota keluarganya di setra desa tetangga. Proses itupun berlangsung selama berhari-hari dan dalam suasana yang menegangkan.