Label

Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Lebaran “Nyama Selam” Di Pegayaman



Oleh Gede Budarsa (Jurusan Antropologi, Universitas Udayana angkatan 2009)


(suasana malam takbiran di desa Pegayaman)
Nyama Selam, mungkin masih asing di telinga kita. Dua kata tersebut merupakan sebutan bagi mereka umat muslim yang sudah mengintroduksikan budaya Bali dalam kehidupannya. Dalam bahasa Bali, nyama  berarti saudara dan  Selam  berarti Islam. Jadi mereka adalah sudara kita (Orang Bali) yang beragama Islam. Nyama selam saat ini sudah diakui sebagai salah satu etnis yang mendiami pulau seribu Pura ini (sumber: BPSNT BALI, NTB, NTT). Sementara mereka menyebut kita ( Orang Bali yang Beragam Hindu) sebagai  Nyama Bali. Dari penggunaan istilah tersebut jelas bahwa sesungguhnya kita adalah saudara yang mungkin dalam beberapa hal memiliki perbedaan. Yang membedakan jelas adalah Agama.  Kenapa ini bisa terjadi? Sejarahlah jawabannya.

Senin, 09 Juli 2012

Tradisi Metuakan di Karangasem




Oleh: Wayan Sunarta


(orang-orang tua metuakan di sebuah warung di Karangasem)
Pada sebuah sore yang indah, di sebuah warung tuak di Karangasem, sekelompok orang tua duduk melingkar beralaskan tikar. Di tengah-tengah lingkaran terhidang lima botol tuak, sate babi, lawar dan camilan lainnya. Sambil meneguk tuak, mereka tampak asyik bercengkerama tentang padi-padi yang mulai panen, tentang kesibukan para caleg mengobral janji-janji membela rakyat jelata, tentang situasi desa, dan sebagainya.

Di Bawah Lindungan Ida Bhatara Arak Api



Oleh : Wayan Sunarta


(proses membuat arak di Merita, Karangasem, Bali)
Ni Nyoman Noti (50) dengan sabar meniup bara di dalam tungku, perapian dari tanah liat, untuk menjaga api agar tetap menyala. Lebih dari tiga jam dia menjerang atau merebus tuak dalam belek, kaleng bekas tempat minyak goreng, yang tampak hitam dan kusam terbungkus jelaga. Di depan, tidak jauh dari belek, tampak jerigen besar yang juga telah kusam. Sebentang pengantang, buluh bambu sepanjang satu setengah meter, menghubungkan lubang belek yang tertutup rapat dengan lubang jerigen besar.