Label

Rabu, 11 Juli 2012

Tanah Terjepit, Manusia Bali Menjerit



Oleh I Ngurah Suryawan

Meski bukan hal baru, kisah ironi tanah-tanah Bali yang dilalap investor terasa sangat menyesakkan. Kali ini dengan “menjual mimpi” megahnya pariwisata, 80% tanah di pesisir pantai di Kabupaten Tabanan dikuasai investor (Bali Post, 1 Juli 2009). Terbuai dengan mimpi-mimpi glamour pariwisata, rakyat dan pejabat menjual tanahnya dengan harapan bisa mendapatkan tetesan madu pariwisata. Tapi apa lacur, tanah sudah terjual, mimpi mendapatkan kesejahteraan dari pariwisata hanyalah isapan jempol.

Subaltern dan Gerakan Sejarah (Baru) Bangsa Papua




oleh I Ngurah Suryawan 
Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.
Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ngurahsuryawan@gmail.com


“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun ada orang yang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”
(Pdt. I. S Kijne tentang masa depan rakyat Papua Barat di Wasior Manokwari, 25 Oktober 1925)

Spirit Kajian Budaya Bali



oleh I Ngurah Suryawan

Kajian Budaya Bali salah satunya berkembang melalui “tangan dingin” dan determinasi intelektual plus perjuangan–yang kemudian menjadi “monumen intelektual”—dari (alm) Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, ”bapak studi kebudayaan Bali”. Monumen intelektual yang dimaksud adalah beroperasinya Program Magister Kajian Budaya pada tahun 1996 dan Doktor Kajian Budaya pada tahun 2001 di Program Pascasarjana Universitas Udayana. Bagi saya, hadirnya program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini lebih daripada sekadar monumen. Program studi kajian budaya di universitas tertua di Bali ini menjadi ruang mediasi gerakan sosial dan intelektual Bali untuk mewacanakan kebudayaannya secara terbuka dan kritis. (Alm) Prof. Bagus seolah meletakkan pondasi studi kritik kebudayaan Bali yang (mungkin) diimpikannya untuk sebuah gerakan intelektual Bali yang memikirkan Bali tidak “ke dalam” dan esensialistik namun terbuka, kritis, dan dinamis dalam membaca relasi-relasi kebudayaan, kekuasaan, dan konteks kuasa kapital global yang mencengkram Bali. 

SISI DIBALIK BALI: Politik Identitas, Kekerasan dan Interkoneksi Global


oleh I Ngurah Suryawan


Di Bali, antropolog juga bisa diuangkan lewat industri pariwisata. Kalau di zaman kolonial orang asing datang ke Bali untuk transaksi rempah-rempah dan budak, di zaman modern mereka datang membeli komoditas yang disebut kebudayaan dan para antropolog bisa menjadi juragannya. Di Bali, untuk menyambut kedatangan sang pembawa devisa, berjamurlah sekolah pariwisata maupun perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum “kebudayaan” yang dibidani oleh insan-insan akademis. Di sinilah terletak benang kusut diskursif antara pengetahuan, takhta, dan uang.
(Degung Santikarma, “Pentas Antropologi Indonesia”, Kompas 7 Juli 2004)

Politik Ruang Pasar dan Perjuangan Mama-Mama Papua




oleh I Ngurah Suryawan
Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua, Papua Barat.
Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ngurahsuryawan@gmail.com


ABSTRAK
Masyarakat tempatan di Papua bisa dikatakan menjadi daerah di garis depan (frontier) pertemuan kekuatan-kekuatan kapital global dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Persaingan memperebutkan akses ekonomi politik menjadi tak terhindarkan. Ketegangan (kekalahan) orang lokal Papua dengan para migran dalam merebut akses ekonomi sering disebut sebagai salah pemantik marginalisasi orang lokal Papua di tanahnya sendiri.

Politik Ruang dan Siasat Kebudayaan



Oleh I Ngurah Suryawan

”Kami selama ini tidak main-main mengembangkan pariwisata di daerah kami. Dasarnya tetap pariwisata budaya dan agama. Jika itu hilang, apa yang akan kami jual,” kata Bupati Karangasem, Wayan Geredeg saat ditanya pengembangan pariwisata di wilayahnya (Kompas, 1 April 2009). Konteks yang diungkapkan oleh Wayan Geredeg adalah respon daerahnya terhadap kajian RTRW (Rancangan Tata Ruang dan Wilayah) yang berusaha untuk memetakan, salah satunya adalah daerah mana saja yang bisa dimasuki dan diubah melalui investasi pariwisata. Pengembangan “daerah-daerah baru” pariwisata melalui investasi di kabupaten-kabupaten sebisanya mengacu pada pariwisata kerakyatan. Dasarnya tentu saja pariwisata berbasis budaya dan agama di satu sisi, dan mengundang investasi untuk menggerakkan pariwisata dan kesejahteraan rakyat di sisi lain.

Politik Ritual Kematian



oleh I Ngurah Suryawan

Sebuah keluarga besar berpakaian adat ringan tampak merangsek masuk ke sebuah gang kecil di pinggiran Kota Denpasar. Mereka adalah si bapak, istri, anak, menantu dan 3 cucunya bergegas menuju sebuah rumah di ujung gang. Di depan rumah, jejeran motor telah memenuhi sebagian ruas gang yang memang jauh dari luas. Beberapa orang yang juga berpakaian adat ringan duduk-duduk mengumpul dan ada beberapa orang yang bercengkrama. Mereka semua menunggu giliran untuk meluasang, nunas baos pada Jero Balian Tapakan di rumah itu. Ritual ini adalah untuk bertanya kepada balian, dukun, untuk berkomunikasi tentang berbagai hal kepada leluhur. Ruh para leluhur inilah yang akan merasuki Jero Balian Tapakan sehingga para pe-nunas baos akan bisa bertanya apapun kepada leluhurnya.